Gak kerasa, semester 5 dikit lagi habis. Start di bulan Juli, melalui berbagai halang rintangan tugas 16 mata
pelajaran (+ 2 BT) sampai akhirnya selesai Jumat,9 desember 2016 yang merupakan
hari terakhir dari UAS(ujian akhir semester). Yeah…the end is near!!! Seluruh
kegiatan bekerja belajar 5 bulan
terakhir, membuat level rohani dan jasmani berada di titik nadirnya.
Jadi,
untuk mengembalikannya ke level semula, demi menghadapi semester 6 dan final
stage, SBMPTN, saya dan beberapa teman yang terdiri atas Gibran, Tio, Ijal dan Ogy memutuskan untuk refreshing
sejenak. Awalnya sih pingin ke Kinokuniya, namun karena kondisi finansial
yang belum menunjukkan titik terang, tujuan kami berpindah jadi jalan-jalan (*ngebolangin)
Jakarta aja. Garis besarnya, pingin ke Kota Tua + sekitaran Monas (Jalan
Merdeka).
Sabtu, 10 desember 2016.
Hari yang ditunggu pun tiba.
Berbekal tas hampir kosong yang hanya berisikan sebuah dompet, notebook(literary),
dan sebuah pulpen saya pun berangkat tepat jam 7. 45 pagi. Saya berangkat
barengan sama Ijal ke smansa dulu, lalu dari smansa bareng sama Tio ke St.
Depok Baru. Sampai di stasiun, menunggu sekitar 10-15 menitan, Ogy muncul entah
dari mana dengan parasut jaket merah khasnya. Situasi di St. Depok Baru
seperti weekend biasanya, mayoritas terdiri dari ibu-ibu pemburu diskon
Tanah Abang. Jam digital di hape menunjukkan pukul 8.20, tinggal menunggu satu
orang lagi, Gibran. Commuter yang menuju St. Jakarta Kota masih di St.
Cilebut, masih lama. Sekitar jam 9.00, akhirnya bisa masuk ke dalam kereta. Karena
padatnya kondisi kereta, Gibran baru bisa ditemui setelah melewati St.
Gondangdia. Selama di kereta, waktu kami hanya terisi dari pembicaraan sejarah
kuno yang hanya sedikit saya mengerti. Tadinya, mau ngomongin Ahok, tapi demi
alasan keamanan (takut ada yang ketrigger) kita mengurungkan niat
tersebut.
Sekitar
jam 10 lewat dikit, kami sampai di St. Jakarta Kota atau lebih dikenal dengan
Stasiun Beos. Udara panas laut Jakarta Utara yang khas langsung menyergap badan
seketika setelah keluar dari stasiun. Tujuan pertama kami, Kota Tua, dapat
ditempuh hanya dengan berjalan kaki sekitar 100 meter kurang dari pintu sebelah
utara stasiun. Setelah melewati antrian bus gratis dan para pedagang jalanan,
menyebrang jalan, akhirnya sampai juga. Selamat datang di Kota Tua!
Memasuki wilayah kota tua,
pemandangan eksotis mulai terasa dari bangunan-bangunan tua nan kokoh
peninggalan Belanda yang dibangun sekitar abad ke-19 dan 20. Di tengah
alun-alun kota, banyak terdapat para turis menyewa sepeda ontel yang berharga
20 ribu/ 30 menit. Di setiap samping kota tua, terdapat bangunan tua sarat
nilai , diantaranya : Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa, Museum Bahari,
Museum Wayang, Café Batavia dan Kantor Pos Batavia. Kota Tua sendiri selain dari gedung-gedung tersebut juga terdapat banyak seniman yang mewarnai tubuhnya sendiri menyerupai sosok-sosok pahlawan untuk laki-lakinya dan seniman perempuan yang merias tubuhnya menyerupai noni-noni Belanda. Seniman jenis lain juga terdapat, seperti yang dapat menggambar silhouette turis hanya dengan sekali lihat, ondel-ondel, seniman yang bisa terbang hanya bertumpu dengan satu tangan(I know your secret mueheh) dan lainnya.
 |
Bersyukur tidak terlalu ramai |
 |
Meriam |
 |
Anjer...bocah topi merah |
 |
Fotografer kita |
 |
Pose tangan favorit |
 |
Sepeda sewaan |
Melihat gedungnya yang paling
megah dan yang paling terkenal, Museum Fatahillah pun menjadi gedung pertama
yang kami masuki. Gedung Museum Fatahillah atau yang dikenal juga dengan Museum
Sejarah Jakarta pada masa lalu merupakan Balai Kota Batavia VOC yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas
perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Di gedung ini, berbagai proses peradilan
hingga eksekusi bagi para terdakwa dilakukan. Sehingga tak heran bila pada saat
pertama kita memasuki gedung ini, kita akan disambut dengan patung-patung yang
memperlihatkan prosesi pemenggalan dan penggantungan kepala manusia yang pernah
terjadi saat itu. Untuk masuk ke museum ini kami harus membeli tiket. Ada 3
kategori tiket : dewasa Rp5000, mahasiswa Rp3000, dan pelajar Rp2000. Setelah membayar
tiket mahasiswa ( L
/ amien), sampailah kita di dalam gedung tersebut.
 |
Fatahillah tampak depan, cuaca berawan |
Dari pintu masuk lantai 1, kami disambut
dengan patung yang menggambarkan hukuman gantung pada masa pemerintahan
Belanda. Memasuki bagian sebelah kiri, memasuki ruangan dengan lukisan besar
mahakarya bapak Sujdojdono yang menggambarkan tentang perang besar yang pernah
terjadi di depan Stadhius(stadhius bahasa Belandanya Balkot). Di ruangan ini
juga terdapat etalase dua jenis senjata yang dimiliki Tuan Rumah. Apa mungkin
satunya untuk berburu binatang dan satunya berburu(membunuh) inlander?(senjata
khusus inlander kwk) Lanjut jalan sebelah kiri, terdapat minatur gedung
berkubah seperti sebuah masjid yang ternyata maket gereja zaman belanda. Sampai
ke pojok kiri gedung, kami berbelok arah ke arah Barat. Ada sebuah foto orang
Belanda yang paling saya ingat di buku sejarah : Jean Pieter Z Coen. Lanjut belok
arah ke Selatan, ada semacam diaroma penyerangan Keraton Jayakarta yang begitu realistik
dan menakjubkan. Terus berjalan lurus, terdapat sebuah meriam dengan arsitektur
naga, sebuah mimbar, relief (saya lupa relief apa), baju eropa abad-17 serta
replika kapal Portugis yang digunakan untuk berdagang.
 |
Karya Sudjodjono
 |
Maket Gereja
 |
J.P. Coen |
|
|
 |
Diaroma Perang Keraton Jayakarta
|
 |
Kapal dagang Portugis |
 |
Memotret luar museum |
 |
Baju Eropa abad-17 |
Naik ke
lantai 2, kita akan melihat beberapa benda perabotan rumah abad-17 yang didesain
oleh Raffles. Beberapa perabotan itu antaranya meja, kursi, brankas/lemari dll.
Di bagian kanan lantai 2 ini, terdapat sebuah ruangan cukup besar dengan meja
makan yang cukup besar pula di dalamnya. Yang membuat saya penasaran adalah di
ruang ini pula, ada sebuah patung Yunani tertancap di Timur ruangan. Di bagian
kiri lantai 2, terdapat kamar tidur lengkap dengan ranjang dari rotannya yang
masih sangat kuat. Hal bersejarah lainnya adalah sebuah lukisan yang juga bisa
kita lihat pada dinding atas pintu masuk museum yang menggambarkan tentang
keadilan. Selanjutnya, pada beberapa titik di dalam dan diluar bangunan ini
juga terdapat meriam-meriam dan guci-guci antik yang masih dipertahankan
keberadaannya.
 |
Perabotan abad-17 |
 |
Lukisan Keadilan |
 |
Siapa ini? |
Puas dengan dalam gedung, kami
berjalan ke halaman belakang museum fatahillah. Di sana terdapat taman yang
dapat dipakai untuk sekedar ngobrol santai. Para penjual kuliner Betawi
tradisional seperti kerak telor dan es selendang mayang juga terdapat di halaman
belakang ini. Kalo kerak telor sih, udah tau, di Setu Babakan juga ada. Nah,
tapi es selendang mayang ini yang agak susah didapetin. Saya berkesempatan
mencicipinya dengan menyisihkan Rp7000. Huhh… menyegarkan mulut untuk sesaat
ditengah suhu 29C.
 |
Beli es selendang mayang |
 |
Istirahat sesaat |
Selain dari taman, juga terdapat
beberapa penjara bawah tanah yang bisa dibilang sadis, terutama penjara untuk
wanitanya. Terdapat genangan air yang berada di penjara wanita. Penjara wanita
ini pun sangat kecil dan sempit dengan ukuran hanya 6x 9 meter. Katanya, para
tahanan di dalam nya dibiarkan begitu saja tanpa diberi makanan dan minuman,
sebagian dari tahanan ini meninggal sebelum adanya proses persidangan. Tahanan
yang sempat merasakan dinginnya penjara wanita ini, dikabarkan pahlawan wanita
dari Aceh, Cut Nyak Dhien. Beralih ke penjara pria, kondisi sedikit lebih
manusiawi(relative terhadap penjara tadi). Di dalam penjara ini, terdapat
bola-bola berat yang dulu digunakan untuk mengikat kaki para tahanan agar tidak
melarikan diri.
 |
Ke women's prison |
 |
Penjara wanita |
 |
Tampak luar dari dalam penjara laki |
 |
Bola besi guna mencegah tahanan kabur |
Waktu telah berlalu cukup lama
di Museum Fatahillah. Jam menunjuk pukul 11.30. Dengan segenap rasa puas,
setelah buang air di toilet dekat pintu keluar, akhirnya kita keluar dari
museum tersebut. Saatnya menuju museum seni rupa!
Bersambung….
Source :
https://www.facebook.com/profile.php?id=100011072685525&ref=ts&fref=ts
https://www.facebook.com/arditio.riski?ref=ts&fref=ts
No comments:
Post a Comment