Bagian I disini
***
Setelah keluar dari Museum
Fatahillah, kita berjalan keluar ke jalan raya lalu masuk lagi ke dalam Kota
Tua. Tempat selanjutnya, Museum Seni Rupa dan Keramik, tepat terletak di
sebelah kanan dari pintu masuk Kota Tua. Harga tiket untuk masuk kesini sama seperti tadi, Rp5000 dewasa, Rp3000
mahasiswa dan Rp2000 pelajar. Dengan menyerahkan Rp2000 untuk tiket kategori
pelajar kami pun masuk.
Dulunya gedung ini bernama asli
Gedung Raad van Justitie, gedung yang digunakan pemerintah Belanda sebagai
lembaga Peradilan Tertinggi Belanda. Pasca kemerdekaan, awal-awal Orde Baru,
tepatnya tahun 1967, gedung ini menjadi kantor walikota Jakarta. Sepuluh tahun
berlalu, bapak Presiden Yang Mulia Soeharto mengubah fungsi gedung ini menjadi
Gedung Balai Seni Rupa. Kemudian, Ali Sadikan sebagai gubernur Jakarta yang
pertama menambah berbagai koleksi keramik ke dalam gedung ini. Sampai akhirnya,
jadilah gedung ini sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik.
![]() |
Tampak depan Museum Seni Rupa dan Keramik |
Kesan pertama yang saya dapat
ketika melihat gedung Museum Seni Rupa dan Keramik adalah tampak depan darinya
mirip banget sama bangunan terkenal di Athena, Yunani. Memasuki dalam gedung,
terdapat 3 bagian : kiri, tengah yang utama dan kanan. Secara random,
lima manusia itu memasuki bagian sebelah kanan. Bagian kanan dari pintu masuk
Museum Seni Rupa dan Keramik hanya terdiri dari berbagai macam benda keramik
(yang menurut Ijal, hanya bernilai karena waktunya) kuno perabotan rumah
dasar bekas kecelakaan kapal Portugis. Menyusuri museum dari lorong kanan, di
ujung bagian tersebut terdapat papan petunjuk bertuliskan Mushola. Karena waktu
yang menunjukkan pukul 11.50-an, kita berhenti sejenak untuk penyegaran jasmani
dan rohani(sholat).
Setelah sholat, dari arah
belakang kami berbelok ke arah Selatan. Di sebuah dinding terpampang tulisan
“Ruang Masa Orde Baru”. Ruangan ini berisi keramik-keramik zaman Orba. Lanjut
berjalan, sampai ke bagian kiri museum. Jika dari tadi koleksi keramik,
sekarang saatnya melihat lukisan-lukisan bernilai tinggi.
Lukisan-lukisan di sini,
dikategorikan berdasarkan masa atau periodenya. Ruang pertama, ruang Masa Raden
Saleh yang berisi karya-karya periode 1880-1890. Ruang kedua, ruang Masa Hindia
Jelita (karya-karya periode 1920-an). Ketiga Ruang Persagi (1930-an). Ruang
keempat, Ruang Masa Pendudukan Jepang(1942-1945). Ruang kelima, Ruang Pendirian
Sanggar(1945-1950 yang di mana pada masa ini para seniman, pelukis, budayawan,
dan sastrawan sering berkumpul mengadakan berbagai kegiatan dan latihan. Affandi
dan S. Sudjojon, dua seniman lagendaris Indonesia lahir dari masa ini. Ruang
keenam, ruang Kelahiran Akademis Realisme(1950-an). Ruang selanjutnya, periode
1955-1965, Partai Komunis Indonesia dengan Lekranya menaungi banyak pelukis
pada masa itu, diantaranya Hendra Gunawan, Trubus, Djoko Pekik, Amrus Natalsya,
dan Henk Ngantung. Terakhir, Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (1960-sekarang.) Masa
Akademi Seni Rupa ditandai oleh bermunculannya sekolah tinggi seni dengan
berbagai jurusan. Disini terdapat tulisan yang berisikan asal mulanya Fakultas
Seni Rupa dan Desain(FSRD) ITB. Jadi, pada tahun 1947 di Bandung didirikan
lembaga pendidikan seni rupa yang meneriman mahasiswa sebagai calon guru gambar
di bawah naungan fakultas teknik(iya kalian tidak salah dengar, fakultas teknik
pencari calon guru gambar kwk). Terus, demi terwujudnya hal tersebut, pada
tahun 1956 berdiri Seksi Seni Rupa yang menjadi cikal bakal Fakultas Seni Rupa
dan Desain ITB seperti yang kalian kenal sekarang.
![]() |
Ruang Masa Orde Baru |
![]() |
Seniman |
![]() |
Pengamat lukisan |
![]() |
Fotografer kita(2) |
![]() |
Lukisan terbaik disini menurut saya |
Berjalan keluar dari ruangan
tersebut, kami ke ruang utama di tengah. Disini terpampang 3 atau 4 lukisan
besar yang sangat menakjubkan sepanjang dinding ruangan.
![]() |
Jakarta setelah sebuah insiden kebakaran / konflik |
***
Hape saya menunjukkan pukul
13.00 lewat, karena riuhan demonstrasi di lambung yang menuntut kesejahteraan.
Kami pun keluar dari Museum Seni Rupa dan Keramik dan sejenak keluar dari Kota
Tua untuk mencari makanan di sekitar jalan raya. Target pun ditemukan. Ada
sebuah tempat makan terbuka di pinggi jalan raya, tepat di samping pintu keluar
Barat Kota Tua. Karena ini masih lingkungan wisata, jadi saya harus menerima
konsekuensi jus alpukat yang biasanya Rp7.000-Rp8.000 berharga Rp11.000 disini.
Demonstrasi di daerah lambung pun berangsur-angsur mereda. Para enzim dan asam
lambung menunjukkan iktikad baik untuk segera ke aktivitas normal mereka.
***
Setelah makan, tujuan berikutnya
adalah Museum Bank Indonesia. Karena kami tidak tau persisnya terletak dimana,
jadi saya bertanya ke seorang petugas. Ia menunjukkan bahwa Museum BI terletak
di luar Kota Tua, kita bisa berjalan kaki menuju arah belakang Museum
Fatahillah sebelah kanan, menelusuri jalanan yang dipenuhi berbagai seniman
Betawi, belok kanan, menyebrang jalan lalu sampai. Ada tips, dari bapak petugas
tersebut, “Hati-hati ada kakek-kakek, suka ilang”. Kami pun mengiyakan dan langsung menjalankan prosedur.
Beberapa menit kemudian, sampailah di Museum Bank Indonesia.
![]() |
Tampak depan Museum BI |
Museum Bank Indonesia adalah
sebuah museum yang menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang
merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran
neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal, dan dibangun pertama kali pada
tahun 1828. Museum Bi buka setiap hari dari jam 8 pagi sampe jam setengah 4
sore, atau jam 4 sore pas weekend. Hari Senin dan libur nasional tutup. Oiya,
pas hari Jumat juga akan tutup selama satu setengah jam hingga jam 1 siang
dikarenakan solat Jumat. Kami sangat beruntung karena katanya besok(hari
Minggu) dan lusa(maulid Nabi) sesuai aturan museum ini ditutup untuk umum.
Berbekal Rp5.000 rupiah, dan menitipkan tas dan jaket kami berlima pun masuk ke
dalam.
Rute mengelilingi Museum BI
adalah mulai dari sebelah kanan terus berputar ke belakang sampai akhirnya
keluar dari bagian kiri museum. Yaudah, langsung aja, bagain kanan pertama
adalah sebuah ruangan yang berisi teks sejarah umum dari Bank Indonesia serta 4
TV yang tersambung mendukung penjelasan umum teks tadi. Lalu, langkah kaki pun
bergerak melanjutkan perjalanan melewati sebuah ruangan cukup gelap yang hanya
tersinari lampu-lampu disko yang membuat pantulan gambar kosmos kita tercinta
sepanjang dinding ¾ lingkaran.
Habis gelap terbitlah terang.
Ruangan berikut berisi kostum tentara yang ditanam di lantai dengan display
kaca tebal, logo-logo BI dari masa ke masa yang terbuat dari kayu, diorama
lengkap dengan patung-patung yang mirip kayak orang beneran(ada hal menarik :
di salah satu sudut ada 2 patung yang ceritanya 2 orang berpakaian jas saling
membicarakan masalah keuangan, lalu ada patung orang Cina lengkap dengan
pakaian tradisional dan kumis panjangnya lagi mengambil uang dari brankas untuk
diserahkan kepada 2 orang(patung) tadi itu, pertanyaan saya : kenapa harus
Cina? *no SARA kwk).
![]() |
Kumpulan penjelajah dunia |
![]() |
Baju tentara Belanda dulu |
![]() |
Baju tentara Jepang dulu |
![]() |
Kenapa harus yang ngambil harus diaaa!! |
Selanjutnya adalah Ruang pamer
yang yang menceritakan perkembangan sejarah Bank Indonesia yang terbagi menjadi
5 periode. Periode 1, Menuju Negara
Modern. Menceritakan keadaan negara yang masih belia, yang baru saja merasakan
hawa kemerdekaan. Namun tugas besar Bank Indonesia sebagai pengatur peredaran
uang dan perbankan Indonesia telah menanti. Periode 2, Membangun Sikap
Kebangsaan. Di masa ini, pembangunan ekonomi negara agak morat-marit akibat
politik konfrontasi. Kebutuhan pembiayaan pembangunan sangat besar namun
penerimaan sangat terbatas. Periode 3, Ekonomi Sebagai Haluan Negara.
Pergantian pemerintahan ke Orde Baru membawa angin segar bagi perekonomian.
Berkat cadangan devisa yang meningkat dan Bank Indonesia fokus membangun sektor
profuktif untuk mengendalikan inflasi. Periode 4, Globalisasi Ekonomi:
Hilangnya Batas Negara. Perekonomian melaju pesat, investasi dan pinjaman luar
negeri mengalir, namun tidak diikuti dengan kehati-hatian yang semestinya.
Kegemilangan ekonomi ini jatuh dalam sekejap setelah nilai tukar rupiah jatuh.
Periode 5, Krisis Segala Lini. Rupiah terpukul setelah krisis nilai tukar baht.
Krisis nilai tukar berubah menjadi kirisis perbankan, di mana 16 bank lalu
ditutup. Rupiah semakin terpuruk pasca kerusuhan Mei 1998. Pemilu 1999 yang
berjalan lancar mampu membawa dampak positif bagi penguatan rupiah. Setelah
ruang pamer, saya melewati ruang pemimpin de Javasche Bank(nama dulu BI),
Syafruddin Prawiranegara. Keluar dari situ, ada sebuah ruang terbuka di tengah
Museum BI. Nampaknya, para karyawan sedang memasang lampu-lampu untuk sebuah
acara tertentu.
Ruangan terakhir sebelum jalan
keluar adalah spot terbaik dari Museum BI ini menurut saya. Ada sebuah ruangan
berisikan koleksi uang kertas dan uang logam yang pernah beredar di Indonesia
dan dunia lengkap dengan deskripsi yang sangat cukup. Ada uang yang berasal
dari masa kerajaan Nusantara, uang zaman kolonial Belanda dan Jepang, uang
khusus yang nominalnya mencapai Rp750.000 dan Rp2.000.000, uang token dan uang
lainnya. Ada kumpulan etalase tipis yang bisa ditarik-tarik yang berisi hampir
mata uang dari seluruh dunia yang tersimpan dengan cara yang sangat berkelas.
Oya..satu hal yang kurang menyenangkan adalah waktu kami datang bertepatan
dengan study tour sebuah SD dan SMP. Jadi, harus siaplah dengan larian dan
teriakan bocah SD ataupun anak SMP yang sedang mengawali masa-masa awal mencari
identitas diri. Setelah puas di ruangan tersebut, kami keluar dan duduk
sebentar di kursi berbentuk uang logam bulat yang bolong tengahnya (kalo yang
pernah nonton Avatar the Legend of Aang pasti tau) kami pun mengambil barang
titipan tadi dan keluar dari Museum BI.
***
Jam menunjukkan pukul 14.30
lewat, hampir jam 15. Setelah Tio dan Gibran membeli cireng dan duduk sejenak,
kami berencana ke Istiqlal buat sholat. Ada sebuah insiden di acara duduk-duduk
ini, yaitu saat Tio ngomong “Lu mau ga, Gy”(menawarkan cireng), Ogy yang
melaksanakan hal normal yang biasa dilakukan pun langsung memakan cireng. Lima
menit berlalu, Tio yang menunggu cirengnya untuk dikembalikan menemukan hal-hal
ganjil. “Njeg, maksudnya bagi, bukan lu ambil semua” begitulah katanya
kira-kira. Ogy menjawab, “Tadi lu ngomongnya, lu mau ga?, yaudah gua mau, gua
makanlah. “Sep..dasar manusia kwk. Setelah insiden cireng, kami menemui sebuah
bus wisata GRATIS hibah dari Tahir Foundation(orang kaya Indonesia), yang
bertuliskan monas,balai kota, dan tujuan lainnya. Saat mau naik, petugasnya
bilang, “naiknya dari seberang, dek”. Yaudah, saat melihat keseberang, kirain
pintunya ada dua : satu pintu masuk, satu pintu keluar. Ternyata, yang dimaksud
seberang adalah seberang di depan stasiun Beos tempat awal kami melihat antrian
yang lumayan panjang. Dengan muka aneh setengah malu akawkaw, kami tentu saja
tidak jadi naik bus GGGGRATIS dan berjalan kaki saja ke stasiun untuk naik
kereta dengan tujuan St. Juanda.
![]() |
Insiden cireng |
Source :
https://www.facebook.com/profile.php?id=100011072685525&ref=ts&fref=ts
https://www.facebook.com/arditio.riski?ref=ts&fref=ts
Bersambung…
No comments:
Post a Comment