Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Timeline Kelas 12 : Kelas 12 Lu Ngapain Aja?

June 28, 2016
                Udah lama banget yak, sejak gua nulis buat blog ini terakhir kali. Oleh karena itu, di post kali ini gua pingin posting yang ringan-ringan aja dulu.
                Kemarin, saat gua lagi baca beberapa blog favorit gua, gua berhenti di salah satu artikel yang menurut gua menarik. Temanya tentang jadwal/timeline Kelas 12. Beberapa paragraf terlewati. Habis juga terbaca artikel tersebut. Gua lanjut melihat sesi komentar, beberapa (banyak) dari yang berkomentar udah belajar buat SBMPTN 2017. Padahal kan, kita (angkatan gua) baru aja pingin naik kelas 12. Beralih ke  akun twitter official blog tersebut pun gak jauh beda, bahkan ada yang foto-foto catatan belajarnya (entah ini emang bener belajar / lomba dapat pulsa).
                Setelah itu, syaraf penglihatan gua langsung mengirimkan sinyal ke lobus frontal, dan tiba-tiba gua memikirkan (lebih tepatnya menghayal mungkin), “Mau kuliah kemana gua setelah lulus SMA nanti?”. “Waduh, udah kalah start gua…..”.Dan berkat saran salah satu artikel lainnya dari blog yang sama, judulnya Apa sih yang membuat kita konsisten, gua pingin menjaga biar gimanapun  tetap konsisten belajar, dengan cara mengatur sedemikan mungkin sehingga dopamine di otak gua dapat teralokasikan semaksimal mungkin buat gua belajar.

                Salah satu caranya, gua bakal ngelist Timeline Versi Gua sendiri di blog ini. Tujuan utama gua biar ada rasa bersalah kalau gua lagi dalam keadaan males, gabut dan sebagainya. Langsung aja :
v  Juli 2016
·         Tamatin buku Catatan Seorang Demonstran by Soe Hok Gie
·         Lomba Compfest di UI
·         Daftar JPLT di Persada
·         Daftar EJU di UI
·         Tamatin buku The Science of Love, Sex dan Relationship Joe Quirk
v  Agustus 2016
·         Tamatin buku Selfish Genes by Charles Darwin
·         Lomba BNCPHS di Binus
v  September 2016
·         Ambil TOEFL ITP
·         Tamatin buku The Origin of Species by Richard Dawkins
v  Oktober 2016
·         Coba beasiswa GSEP Tittech
·         Coba beasiswa KGSP (Korean Government)
·         Tamatin buku Art of War by Sun Tzu
v  November 2016
·         Ambil JPLT di PERSADA
·         Tamatin buku Cosmos by Carl Sagan
v  Desember 2016
·         Ambil EJU di UI
·         Coba beasiswa NTU
·         Coba beasiswa NUS
·         Tamatin buku Small Six Piece by Richard Feynman
v  Januari 2017
·         Tamatin buku The Power of Habbit
v  Februari 2017
·         Ambil TOEFL iBT
v  Maret 2017
·         Coba beasiswa Mitsui Bussan
v  April 2017
·         Coba beasiswa Monbusho
v  Mei 2017
·         Ujian SBMPTN  
·         Ujian SIMAK UI
·         Daftar JPLT
v  Juni 2017
v  Juli 2017
·         Tamatin buku Mein Kampf (ini tebel)
·         Ambil JPLT
                Catatan :
v  List di atas di luar KBM dan Ujian-ujian wajib(uas/us/un/praktek) sekolah.
v  Bisa berubah sewaktu-waktu
Ini dia yang officialnya.
Credit : https://d3fc3prx3nea5t.cloudfront.net/wp-content/uploads/2016/06/Screen-Shot-2016-06-07-at-15.12.47.png


               

Read more ...

Antara Fasilkom UI dan STEI ITB

April 07, 2016
                Anjirr…udah Bulan April.Gak terasa sekarang gua udah semester 4(kelas 11), udah ngelewatin setengah kehidupan masa SMA. Masa-masa yang (katanya) seru, menyenangkan, exciting, tempat lu nemuin jati diri, pokoknya memorable banget dah.

                Di masa ini pula, gua makin bingung sama cita-cita. Dari pertamanya SD pengennya jadi Pilot, SMP pengen kerja kantoran(ßgua gak tau jenis profesi apa ini kwk, yang penting mirip Ortu), dan sekarang SMA gua malah bingung pengen ngapain waktu abis kuliah nanti. (*Yang pasti pengen nikah sama cewe blasteran Jepang-Rusia). Kalo, ngeliat kehidupan SMA, gua kepilih jadi anggota Student Club Computer(salah satu ekstrakurikuler) , Alhamdulillah sampe tahap OSP 2 kali (belom OSN tapi-_-) dan agak berpengalaman ikut lomba-lomba Competitive Programming(belom pernah menang), kayaknya jadi Programmer bakal jadi profesi yang menyenangkan. Oiya…., programmer ini banyak jenisnya, ada yang Software Engginer, System Analist, IT Consultan, Game Developer, dan beragam profesi lainnya. /*bazeng, pendahuluan 2 paragraf*/

Fasilkom UI
                Buat jadi programmer(dan sejenisnya), berarti gua pastinya butuh bekal, yaitu belajar (kuliah) di jurusan tersebut. Untuk S1, jalurnya ada lewat belakang,SNMPTN,SBMPTN dan UM(ujian mandiri). Untuk ini, gua udah nentuin 2 Universitas impian, yaitu Ilmu Komputer – Fasilkom Universitas Indonesia dan Informatika - STEI ITB. Yang gua bingungin sekarang adalah prioritasnya gimana, mana yang gua taro di urutan 1 waktu daftar SNMPTN/SBMPTN nanti.




STEI ITB
                Apa bedanya Ilmu Komputer(Computer Science) dan Informatics. Ternyata, cuma perbedaan penamaan doang. Latar belakangnya sih, pernah dijelasin salah satu dosen ITB Pak Rinaldi Munir.Kata Beliau,  dulu dosen UI kebanyakan lanjut kuliah ke luar negerinya ke Amerika Serikat, yang di sana jurusan tersebut dinamai dengan Computer Science, sesuai Bahasa Inggris. Sedangkan dosen ITB, dulu, kalau lanjut kuliah kebanyakan ke Eropa, yang memakai nama Informatics, berasa dari Bahasa Prancis, Informatique.  
               
                Pertama-tama,  pengen list alasan-alasan yang gak reasonable banget, tapi entah kenapa gua rasa ini penting.
Kenapa Fasilkom UI lebih baik  :


  1. Deket rumah, naek sepeda nyampe 5-20 menit
  2. Tinggal di rumah, makan di rumah, tidur di rumah, boker di rumah dan lainnya
  3. Alumni SMANSA bejibun, awal-awal udah dapet banyak relasi 
  4. Anak OSN Informatika dan TOKI entah kenapa lebih banyak ke UI dibanding STEI
  5. Bisa maen ke Jakarta
Kenapa STEI ITB lebih baik :


  1. Bandung lebih dingin dari Depok, menurut penelitian, orang yang tinggal di daerah dingin lebih cerdas dibandingkan yang tinggal di daerah panas. 
  2. Pengen nge-kos
  3. Bosen tinggal di Depok
  4. Pengen tantangan hidup
  5. Bandung smart city katanya

                Sekarang dari segi kurikulum :
                Perbedaan, mendasar ada di tahun pertama. Kalo di UI, siswanya langsung belajar “ilmu komputer” itu, mata kuliahnya antara lain Matematika Diskrit, Fundamental Programming, Object Oriented Programming, Dasar Sistem Digital dan Dasar Desain Komputer. Tapi, kalo di ITB mayoritas muridnya harus mengikuti masa TPB(Tahap Persiapan Bersama), yang berarti gua harus kembali bergulat bersama Fisika dan Kimia. Walaupun mata kuliah itu diberi nama “Fisika Dasar” dan “Kimia Dasar”, mata kuliah selain kedua itu ada Kalkulus 1 dan 2, Dasar Teknik Informatika, Dasar Elektro dan Dasar Sistem Informasi . Tapi gapapa, gua malah senang kayaknya, karena dengan nguasain “Dasar” ini secara bener, kita jadi tau integrasi antar disiplin ilmu tersebut dengan jurusan yang kita ambil. Dan ternyata, sistem TPB ini diadopsi dari Universitas impian gua di Amerika , Massachusset Institute Technology.

                Semester 3 dan 4. Di UI, kita mendalami lagi field kita, mata kuliahnya : Data Struktur dan Algoritma, Desain Database dan Sistem, Matematika Intermedite(Kalkulus, Linear Algebra, Probability terapan), Jaringan Komputer, Sistem Operasi dan Pemrogaman web. Sekarang ITB, tahun ini baru mulai kuliah jurusannya (yeay), mata kuliahnya include  mata kuliah di tahun pertama UI semisal Matematik Diskrit, Sistem Digital, Probabilitas & Statistik, OOP. Tambahannya, ada Algoritma dan Data Struktur, Database, Software engginering, dan Teori Bahasa dan Automata. Di tahun ini pula, di ITB kita diperbolehkan milih mau lebih kearah Ilmu Komputer atau Software Engginering. Perbedaanya, Software Engginering lebih practical, sedangkan Ilmu Komputer lebih teoritis.

                Tahun ke tiga. Di UI, kita sekarang bisa ngambil konstrasi, ada beberapa yaitu : Teori Ilmu Komputer, Software Engginering, dan Embedded System(ada programmingnya ini). Selain itu, kita masih nerusin beberapa prasyarat mata kuliah antara lain : teori bahasa dan automata, analisis algoritma, software engginering, software project dan intelligent system. Di ITB, mata kuliahnya ada Komputer Grafis, Strategi Algoritma, Artificial Intelligence, Sistem operasi, Jaringan Komputer dan Interaksi manusia komputer.

                Tahun terakhir. Keduanya sama nerusin kosentrasi yang diambil di tahun-tahun sebelumnya. Dan yang paling penting, you know la, SKRIPSI. Kalau berhasil lewatin, selamat anda sudah mendapat gelar Sarjana Komputer (UI) atau Sarjana Teknik (ITB). Dan selamat melanjutkan kehidupan, bagi yang mau kerja, wirausaha, nikah, dan lainnya.

Read more ...

Seandainya Gua Menteri Pendidikan

February 16, 2016
Sebagai seorang siswa Indonesia, gua pastinya punya pandangan terhadap apa yang gua dapatin di sekolah. Di tulisan ini, gua bakal nuangin segalanya, gimana sih sekolah impian yang gua inginkan itu. Termasuk,  apa yang bakal gua lakukan seandainya gua adalah Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Warning..!!! Tulisan ini penuh dengan kebullshitan.  
                Pertama, ketimpangan fasilitas antara sekolah di Ibukota dan pelosok, kota dan daerah, Jawa dan luar Jawa, dan sebagainya.Masih banyak para teman kita yang belajar dengan beratapkan alas yang mau roboh, atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagaimana mengatasinya? Perlu adanya peningkatan porsi APBN untuk pendidikan, perbaikan pada birokrasi di tiap daerah dan sebagainya.
                Lalu, yang bakal gua bahas paling panjang.  the most important, kurikulum. Spesifically, sistem reward. Kurikulum telah menghilangkan “fun of learning”. Penting untuk menyadari bahwa setiap anak itu unik. Masing-masing mempunyai kemampuan dan kecerdasan di bidang yang berbeda-beda. Nah, kurikulum kita telah melakukan kesalahan besar (*Warning! Ini subjektif). Kurikulum telah menggeneralisasi setiap insan muda Indonesia. Gua bakal menghapus UN.
                Lah, bukannya emang udah dipisahin ya…antar IPA dan IPS di SMA. Ya emang udah dipisahin, tapi bukan itu yang gua maksud. Pemisahan ilmu gak segampang itu. Emang ada, seorang matematikiawan yang juga Dokter? Di saat UN, para pelajar adalah superman yang bisa menjadi Sastrawan, Matematikiawan, Ahli Biologi, Insinyur, serta kimiawan sekaligus. Tapi, apa esensi mereka belajar hal tersebut, mayoritas(mayoritas!!!)  dari mereka hanya menaruh informasi yang mereka tahan selama proses belajar mereka ke sebuah kertas ujian, lalu melupakannya setelah selesai. Nah, maka dari itu, seandainya gua Menteri Pendidikan, gua bakal menghapus sistem nilai itu.
                Mundur kebelakang dulu ya. Buat tingkat SD, harus ada foundation yang kuat(banget) yang bakal dipakai disegala lini kehidupan. Mapel(Mata Pelajarannya gimana?). Untuk kelas 1 dan 2, pastinya Agama dan PKn.  Kelas 3, ditambah Matematika dasar dan Bahasa Indonesia(bukan Sastra Indonesia).  Kelas 4 sampai 6, ditambah IPS dan IPA dasar yang sebenarnya. Maksud gua gini, apa gunanya anak umur 9 tahun buat tau, siapa yang menandatangani uang jajan mereka, atau badan usaha adalah organisasi ekonomi yang menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi. Yang mau liat lebih lanjut kelucuan bisa dilihat disini.
                Lanjut, SMP kelas 1, ditambah Bahasa Inggris yang notabene bahasa Internasional, scientific skill(bedakan dengan  learning science) dan dasar-dasar filsafat. Filsafat? Yak, tepat. Gua pingin, para pembelajar tersebut gak asal terima percaya aja segala sesuatu yang datang ke dia. Mereka harus tau, asal usul kenapa begini, kenapa begitu.
                SMP kelas 2 sampai 4, pembagian kelas dimulai. Tapi instead of pembagian kayak sekarang(kelas mendatangi siswa), gua pengen sebaliknya, tiap sekolah itu ada kelas fisika, ada kelas ekonomi, ada kelas sastra dan sebagainya. Jadi, para siswa bebas milih untuk masuk ke kelas mana aja. Tapi, pastinya harus ada kelas yang wajib diambil, antara lain : Bahasa inggris, menulis, filsafat,public speaking,  matematika, agama dan PKn. Tapi tenang, porsi untuk kelas wajib ini mungkin hanya 25% dari keseluruhan. Evaluasinya gimana? Kayak sistem mata kuliah aja, jadi buat lanjut ke SMA, para siswa harus mencapai batas minimal mata kuliah yang diambilnya. Seandainya ia mau menjadi sastrawan, ia harus lebih banyak mengambil kelas sastra ketimbang sosiologi dan sebaliknya. Di tingkat yang panjang ini juga, harus dijelasin-sejelasnya esensi dari disiplin ilmu itu sendiri, contohnya : Matematika bukan ilmu hitung-hitungan, melainkan gimana cara berpikir yang bener, fisika bukan matematika, ekonomi adalah cara memilih yang benar instead ilmu uang, moral bukan agama dan sebagainya.
                SMA kelas 1,sistem kelas masih sama, hanya para siswa yang kira-kira telah 1,5 dekade di bumi , ditekankan apa itu integrasi ilmu. Mereka harus tau, dimana posisi antar disiplin ilmu di dunia, gimana sih ilmu itu terkait satu sama lain.  Gimana, kok bisa munculnya obat kanker dari bahan nuklir, bisa nyebabin Dr. Warsito di “buang” dari Indonesia, gimana kok bisa sangat sedikit seniman di Indonesia ketimbang Negara maju, gimana gejolak politik bisa berpengaruh sama nilai rupiah dan sebagainya.
                SMA kelas 2 adalah masa terakhir dari pendidikan menengah. Para murid, dipersiapkan buat memasuki jenjang perkuliahan dengan lebih memperdalam ilmu yang menjadi pilihannya. Di tingkat terakhir ini juga, diajari cara survive sebagai warga Negara, contoh : cara membuat KTP,SIM dan sebagainya secara jujur, pasal-pasal dasar yang harus diketahui, dan sebagainya.
                Untuk tes masuk kuliah, yang harus di tes antara lain, TPA, Bahasa Inggris, dan pelajaran yang berkaitan jurusan kuliah tersebut saja. Selanjutnya, sunnahnya ada seleksi essay dan wawancara.
                Yah…udah panjangn juga tulisannya kwk, sekian dari gua, terima kasih yang udah luangin waktu baca sampai paragraf terakhir, pesan gua buat seluruh teman pelajar: Tetaplah merasa bodoh, maka lu bakal belajar, dan akhirnya lu mengembalikan hakikat dasar manusia sebagai pembelajar.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
               
               


Read more ...

Kelucuan LKS IPS kelas 3 SD

February 16, 2016


                Sesuai judul,gua bakal sharing aja LKS adek gua, yang masih kelas 3 di sekolah negeri. Ini bukti, bahwa (mayoritas) pendidikan Indonesia mengedepankan hafalan tanpa pemahaman. Siapa yang salah, pencetak buku tersebut atau pemerintah?
               
Cover Depan Buku

Lihat No.3
Kok salah? Kalo gak dijual di luar negeri kan, ya gimana mau laku. Iya..gua tau maksud gurunya bukan itu, tapi tetep aja ini ngebunuh kreativitas 




No. 27, ternyata bentuk tulisan yang ahh..sudahlah.
No. 28, soal hafalan

No. 24, emang bakal make wesel pos ya kwkw
No. 25, lebih penting bisa ngatur uang atau tau, kalo uang itu ditanda tangani Dewan Gub. BI

Wow...such problem. Adek gua udah diajarin Bursa Efek Indonesia kwkwk


Sekian, mungkin nanti bakal ditambah



Read more ...

Apasih yang Semestinya Diajarkan di Sekolah?

December 31, 2015
“Kamu kalau besar nanti mau jadi apa?”
“Apa saja Bu, yang penting berguna demi nusa dan bangsa!”
Seseorang akan dianggap penting jika ia dikenang oleh orang lainnya. Tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tapi apa yang ia lakukan demi semua orang – itulah yang membuat seseorang menjadi “penting”.
Ilmu, pengalaman, dan semangat kuat adalah kunci-kunci untuk berhasil. Kita semua tahu dengan jelas hal-hal itu. Sekarang, mari kita bandingkan dengan fungsi sekolah: membantu para siswanya mencapai keberhasilan (katanya). Dari dua fakta itu, mari kita simpulkan:

Sekolah Semestinya Mengajarkan Ilmu, Pengalaman, dan Semangat.

Ok, ok, saya tahu bahwa sekolah memang mengajarkan hal-hal ini. Tapi itu kan secara teoritis. Tidaklah adil jika saya langsung menuduh sekolah mengajarkan ketiga hal tersebut. Tapi mari saya teliti satu per satu.

Ilmu –ilmu sering tidak dianggap; yang dianggap adalah nilai. Saya rasa itu sesuatu yang tidak adil. Memang, segala sesuatu harus bisa diukur dengan suatu cara, untuk dibandingan. Tapi ilmu itu relatif. Saya bisa saja jago matematika tapi kemampuan Biologi saya amburadul. Dan jika hal itu terjadi, maka saya bisa jadi tidak lulus SMA. Ironiskah hal itu, bahwa kami terpaksa menjalani kemampuan secara bercabang, demi sekedar lulus, yang mungkin akan dilupakan saja setelah tuntas ulangan?
Ambil saja, Ujian Nasional kelas tiga SMA. Saya seorang murid IPA – aha, sudah ada kemajuan sedikit di sini. IPA dan IPS telah dipisah. Tapi tetap saja, dalam IPA, saya akan diuji 6 pelajaran: matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, biologi, kimia, dan fisika. Saya akan pisahkan Bahasa Inggris, karena saya anggap bahwa pelajaran itu cukup diperlukan, sehubung dengan globalisasi. Tapi lihatlah yang lain. Dengan diujinya semua pelajaran itu, saya dituntut untuk menjadi seorang matematisi, sastrawan, dokter, peneliti kimia, dan insinyur secara bersama-sama. Gila!!!!

Pengalaman – kelihatannya sederhana. Memang, pengalaman itu akan datang dengan sendirinya, bahkan tanpa diundang. Dengan sekedar hidup, kita memperoleh pengalaman, saya, lagi-lagi, akan mempertanyakan sekolah dalam hal ini. Dengan otak berisi pelajaran dari pukul 4 pagi hingga 5 sore (di sekolah saya), dan mata yang seharian pun tidak dapat melihat matahari (lebay…. ).
Ini menyisakan sedikit sekali waktu untuk mencari pengalaman lain, bagi hal yang saya anggap penting. Misalkan saja. Saya seorang programmer. Teman saya ada yang komikus, penari balet, penulis novel, fotografer… Berapa waktu lagi yang tersisa untuk pengalaman yang kita tahu sebenarnya akan berarti bagi kehidupan kita? Inilah mengapa yang disebut “hobi” hanya tinggallah hobi – dan juga mengapa sastrawan atau pelukis sering dianggap rendah (kecuali ia bisa menghasilkan uang banyak).
Karena itu, harusnya sekolah dapat menutupi kekurangan pengalaman itu. Dan itu ditutupi dengan apa? Berjam-jam duduk di depan meja, mencatat, mengerjakan soal, dan menggapai nilai yang setinggi-tingginya? Sekolah dapat melatih seorang murid untuk menghitung integral dari suatu penjabaran matematika panjang lebar, tapi ia tetap tidak akan tahu cara mengatur keuangan pribadinya dengan baik. Mau dari mana pengalaman kita?

Semangat – saya setiap hari bahagia sekali datang ke sekolah. Tapi saya tidak pernah berjalan masuk sekolah dengan pikiran “asik, hari ini saya akan diajari cara menghitung muatan partikel yang bergerak dari satu ujung kabel ke ujung lain dan dipengaruhi sebuah magnet”. Tentu tidak. Yang saya pikir adalah “asik, bisa bertemu teman-teman. Saya mau cerita tentang kejadian tadi malam“.


Penutup
Saya senang dengan lingkungan sekolah. Senang dengan sahabat saya. Senang akan kebersamaan itu, dan senang berbincang dengan guru. Tapi bukan untuk belajar. Saya tidak punya semangat untuk itu. Ada dua kemungkinan masalah: apakah saya yang tidak termotivasi, atau ini masalah dengan sistem sekolah? Saya bisa tanya setiap teman saya, apakah yang ia harapkan dengan ilmu yang dipelajari setiap hari. Hampir semuanya akan menjawab “agar saya dapat lulus, kemudian masuk Universitas /  fakultas yang saya inginkan“. Anda lihat satu pola di sini?


Read more ...

Sekolah dan Sejarahnya

December 31, 2015
Mendengar kata sekolah, apa yang ada di benakmu wahai pembaca sekalian. Suatu bangunan,  yang terdapat kumpulan kelas kotak, dengan 20 meja dan 40 kursi di dalamnya? Suatu tempat dimana seseorang menghabiskan sebagian waktu hidupnya untuk belajar atau mengkaji sesuatu?  Ya, pada umumnya sekolah adalah suatu lembaga, suatu organisasi besar, dengan segala kelengkapan perangkatnya, dengan serangkaian jadwal terikat dan aturan tertentu, dan lainnya.
                Padahal (baca : ironisnya), kata sekolah berasal dari bahasa  Latin, yaitu schola, yang berarti “waktu luang”. Hhmm… Bagaimana sebenarnya sekolah tercipta?
                Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan berkumpul di suatu tempat, dengan maksud memenuhi dahaga  keingintahuan mereka  yang dirasa perlu. Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah skhole, scola, scolae atau schola. Keempatnya mempunyai arti yang sama yaitu waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar.
                Lama kelamaan, kebisaaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebisaaan kaum lelaki dewasa atau sang ayah dalam susunan keluarga pati masyarakat Yunani Kuno. Kebisaaan itu juga kemudian diberlakukan bagi para putra-putri mereka, terutama anak laki-laki, yang diharapkan nantinya dapat menjadi pengganti sang ayah. Karena desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, sang ayah dan sang ibu merasa bahwa mereka pun tak lagi punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada putra-putrinya. Karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat dimana mereka juga dulunya pernah ber-skhole. Di tempat itulah anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang mereka anggap memang patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.

                Waktu terus berlalu. Para orangtua makin terbiasa mempercayakan kepada orang-orang atau lembaga-lembaga pengasuh pengganti mereka di luar rumah tersebut, dalam jangka waktu yang semakin lama dan dengan pola yang semakin teratur pula. Karena makin banyak anak yang harus diasuh, maka mulai pula diperlukan lebih banyak pengasuh yang bersedia meluangkan waktunya secara khusus untuk mengasuh anak-anak di suatu tempat tertentu yang telah disediakan, dengan peraturan yang lebih tertib dan dengan imbalan jasa berupa upah dari para orang tua anak-anak itu. Adalah seorang John Amos Comenius, melalui mahakaryanya yang kemudian dianggap sebagai fons et erigo nya ilmu pendidikan (tepatnya: teori pengajaran), yakni kitab Didactica Magma, melontarkan gagasan pelembagaan pola proses pengasuhan anak-anak itu secara sistematis dan metodis. Melanjutkan tradisi Comenius, adalah seorang berkebangsaan Swiss, Johann Heinrich Pestalozzi, pada abad-18, tampil dengan gagasan yang lebih terinci. Orang ini melangkah lebih jauh dengan mengatur pengelompokan anak-anak asuhannya secara berjenjang, termasuk perjenjangan urutan kegiatan (kemudian disebut “pelajaran”) yang harus mereka lalui secara betahap. Juga pengaturan tentang cara-cara mereka harus melalui pelajaran tersebut pada setiap tahapan menurut batasan-batasan khas dan terbaku. Upaya ini, akhirnya menjadi cikal-bakal pola pengajaran sekolah-sekolah modern yang kita kenal sekarang dengan perjenjangan kelas dan tingkatannya. 
Read more ...