Showing posts with label Pemikiran. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran. Show all posts

Saatnya Kita Bilang.....Sempurna!

June 03, 2017
                Beberapa waktu yang lalu, seorang pesulap dari Indonesia, Demian Aditya 36 tahun,Jakarta, tampil di acara pencarian bakat terkenal American Got Talent. Penampilan dia dapat kita lihat bersama-sama di youtube(sudah saya sediakan di bawah paragraf ini). Untuk para fakir kuota, pokoknya Demian memborgol kedua tangannya dengan rantai, masuk ke dalam kotak tersebut, mengikat leher dan kakinya, lalu  mengurung dirinya di suatu kotak kaca tembus pandang dari depan. Di atas kotak kaca tersebut ada suatu penghalang berupa kayu/besi yang di atas penghalang tersebut ada setumpuk pasir yang akan terus bertambah jumlahnya setiap detik melalui semacam keran pasir. Penghalang tersebut tentu memiliki daya tahan tertentu, misalnya dapat menampung 400 kg pasir. Jika lebih dari 400 kg maka penghalang tersebut akan hancur dan pasir di atasnya akan jatuh dan mengubur Demian hidup-hidup. Demian diharuskan untuk keluar dari kotak tersebut kurang dari dua menit (Sistem permainannya mirip jam pasir yang digunain di acara The Jungle di stasiun televise Spacetoon beberapa tahun lalu). Lalu, keran pasir dibuka, Demian mulai berusaha membuka borgol dan semua ikatan pada tubuhnya. Sayang sekali, dua menit terlewat, pasir tersebut jatuh dan mengubur tubuh sang illusionis. Keempat juri dan seluruh penonton panik. Dua asisten berbaju hitam datang berusaha membantu mengeluarkan Demian dari tumpukan pasir tersebut. Salah satu asisten, berusaha memecahkan kaca tersebut. Tapi, secara ajaib ternyata asisten tersebut adalah Demian.  Satu komentar saya terhadap penampilannya yang agak kurang, Demian lupa kata-kata favoritnya, “Saatnya kita bilang…sempurna!” atau mungkin dalam bahasa Inggris, “Now, it’s time to say…..Perfect!


                Hhhmm…aneh. Para juri dan penonton yang taddinya kaget memberikan standing ovation pada Demian sang illusionis. "Saya sesenang ini melihat kamu ternyata masih hidup," kata Howie Mandel, salah satu juri AGT.Akhirnya, Demian mendapat 4 YES atau fullscore dan melaju ke babak selanjutnya. Bangga! Hal menarik terjadi di sesi komentar di video penampilannya di Youtube. Satu jam pertama setelah di upload, para orang luar memberikan komentar “How you could do this?”, “It is so amazing”, “I watch this for the first time.” Satu jam berikutnya, orang-orang Indonesia yang bangga dengan saudara sebangsanya mulai bermunculan dengan komentar “I am proud of you”, “He is from Indonesia”, “He is from WKWKWKWK land” dan sebagainya. Satu jam berikutnya lagi, komentar-komentar yang menurut saya tidak pantas bermunculan. “Ah, gua juga bisa. “, “Itu cara kaburnya, begini-begini-lalu begini.”, “Udah sering lihat di TV”, “istrinya lebay pake nangis segala” dan komentar pedas lainnya.

                Bagi kalian yang sering nonton aksinya Demian di televisi kesayangannya masing-masing pasti trik-trik melarikan diri Demian di American Got Talent ini akan terlihat sangat biasa. Dia sering melakukan aksi yang lebih menakjubkan dan berbahaya dari ‘sekadar’ melarikan dari setumpuk pasir. Kita pernah melihat dia melarikan diri dari akuarium yang jika dia gagal melakukan hal tersebut dalam dua menit, puluhan piranha akan mencabik-cabik tubuhnya.  Kita pernah melihat dia dikubur hidup-hidup di dalam tanah, lalu muncul secara ajaib sebagai salah satu penggali kuburan tersebut .

                Demian adalah seorang pesulap, tentu lah ada trik yang digunakannya. Dia bukan Nabi, yang menurut para believernya mempunyai mukjizat dari Yang Diatas. Bukan pula shinobi, yang punya chakra untuk mengeluarkan berbagai jutsu. Memangnya apa sih yang kalian harapkan? Saya yakin adalah atraksi yang benar-benar mistis dan di luar nalar manusia, ya kan. Gak heran, batu Ponari yang hanya sekadar batu ditaruh air di atasnya yang bisa menyebuhkan segala penyakit lebih menarik bagi (sebagian) masyarakat Indonesia seperti kalian. Itu memang trik yang dibutuhkan. Dia sedang menampilkan aksi pertunjukan, bukan aksi bunuh diri. Kalau di dalam film horror, hantunya bisa tiba-tiba muncul di tirai tapi sedetik kemudian hilang lalu muncul lagi memenuhi layar menganggetkan penontonnya, apa itu benar-benar nyata? Engga kan, itu hanya trik. Sama saja seperti disini, dihadirkan untuk memenuhi syaratnya sebagai sebuah seni pertunjukan.

                Apakah salah membeberkan trik seorang pesulap? Menurut akal sehat gua, gak salah, TAPI tempatnya tidak sesuai. Kalian menyebarkan hal tersebut di suatu platform publik yang semua orang dapat membacanya. Lantas, apabila semua orang tahu trik tersebut, bagaimana dia(dan pesulap-pesulap lainnya) menampilkan hal tersebut di lain kesempatan. Kalian baru saja menghilangkan sumber mata pencaharian seseorang. Kalau kalian ingin menunjukkan bagaimana trik tersebut bekerja, lakukanlah di komunitas-komunitas pesulap tempat kalian para pesulap mahir ataupun amatir berkumpul. Di komunitas tersebut kalian dapat saling sharing trik-trik yang kalian gunakan. Yang pernah atau ikut komunitas pesulap, pasti tahu tidak mudah melakukan trik tersebut. Dibutuhkan ketepatan dan gimmick muka yang tepat agar tetap menjaga ketegangan di wajah penonton.

                Seorang pembeber atau the spoilerman adalah seorang yang sialan. Saya akan menunjukkannya. Kita kembali ke film horror. Andaikan kamu sedang menonton film tersebut sendirian. Di pertengahan film,  seorang temanmu datang dan duduk bergabung, tentunya dia sudah pernah menonton duluan film tersebut. Lalu, saat hantunya akan muncul temanmu si spoilerman ini dengan sialannya memberi tahu duluan, “Nih, si hantu bakal keluar dari atas lemari.” Apa akibatnya? Pertama, kamu kehilangan sensasi ketakutan yang seharusnya kamu dapatkan, menonton ulang film tersebut tentu tidak akan memberikan sensasi yang sama lagi. Kedua, si spoilerman (mungkin) akan menanggung amukan kamu. Ketiga, kamu mungkin akan menganggap spoilerman orang yang berbeda seperti saat dia belum melakukan aksinya, begitu juga si spoilerman akan menganggap kamu orang yang berbeda.


                Poinnya adalah janganlah untuk yang sudah sering menonton aksi sejenis ini, lalu menjadi seorang spoilerman sialan. Daripada begitu, marilah kita memposisikan diri sebagai seorang yang baru pertama kali menonton aksi pertunjukan ini, nikmati saja seni pertunjukannya dan berikan applause sebesar-besarnya dan berkata/berkomentar kepada seorang  Demian yang sedang mengharumkan nama Negara ini dengan quote terkenalnya, “Saatnya kita bilang….sempurna!!!”
Read more ...

Karena Belajar (Bukan) Sekadar Nilai...

December 24, 2016
Awal Pertemuan


                Alkisah, seorang pelajar kelas 10 yang berusia 15 tahun sedang tidur-tiduran di depan laptopnya sambil membuka kaskus. Di salah satu hot thread-nya tertulis “Sepenggal RefleksiKondisi Pendidikan Indonesia”.  Thread tersebut isinya, sebuah riset internasional dari PISA pada tahun 2012 yang bertujuan untuk mengukur kemampuan akademis para pelajar berusia 15 tahun di seluruh dunia. Ujiannya antara lain : matematika, membaca dan sains. Hasilnya, setelah di uji, pelajar Indonesia menempati urutan KEDUA DARI BAWAH.  Sekarang, lihat aja contoh soal PISA. Tanyakan beberapa soal itu ke temen-temen lu sekarang (udah SMA kelas 12), gue yakin masih aja ada yang gak bisa jawab beberapa (padahal itukan buat anak 15 tahun -_-).

                Berdasarkan artikel itu,  masalahnya  adalah : Para siswa tersebut gak ngerti-ngerti banget KONSEP DASARNYA dan bingung, “Ngerjain PAKE RUMUS  apa ya..gak pernah diajarin ni sma guru matematika.” Padahal, ESENSI dari bermatematika adalah abstract modelling atau gimana cara lo memodelkan suatu permasalahan ke rumus.

                Nah, dari artikel itulah awal mula gue ketemu Zenius. Selepas dari tulisan tersebut, gue pun langsung tancap gas ke zeniusblog buat baca artikel-artikel lainnya. Artikel-artikel yang saat itu gue baca (kalo ga lupa) antara lain : The Virtue of Liberating Education, yang nyeritain kenapa pendidikan Indonesia tuh ketinggalan banget dan gimana perbandingan tujuan pendidikan di Indonesia dengan di luar sana; UniversalIntellectual Standard, sesuai judulnya apa sih yang dibutuhkan buat ‘cerdas’ secara general; Pentingnya Sains dalam Pendidikan, tentang sains sebagai konteks dan berpikir kritis dan salah kaprah akan istilah ‘sains’ itu sendiri yang terlalu dianggap sempit.

                Kalo lo perhatiin, artikel yang gue baca itu sejenis kan. Tentang masalah-masalah pendidikan di Negeri ini. Hal yang saat itu gue pikirkan adalah penulis artikel tersebut adalah orang-orang yang mengerti pendidikan yang sesungguhnya. Dan kebetulan, gue punya cita-cita buat mewujudkan suatu sekolah yang para siswanya BEBAS belajar APA AJA dan sekolah hanya sebagai fasilitator. Suatu kesenangan yang super saat itu, kalo ada sebuah lembaga(gue nyebut lembaga karena ternyata penulisnya lebih dari satu) yang sevisi sama gue tentang hal itu. Kalo kata ilmu psikologi, “Lo bakal punya kecenderungan untuk menyetujui apa yang udah duluan lo setujui sama otak lu!”. Itulah yang membuat zeniusblog selalu nongol di tab bookmark dan menjadi santapan bacaan mingguan sampai sekarang.
  
                Semua artikel di atas termasuk kategori zenius-insight kalo di blognya. Sesuai namanya, “insight”, artikel-artikel yang dikategorikan ke sini adalah wawasan-wawasan yang menantang lo berpikir dan merenung. Beberapa zenius-insight yang paling gue suka adalah : Belajar Untuk Nilai atau Untuk… , Sejauh Mana Lo Tau KondisiDunia Saat Ini, Are You Ready to Understand the World?, Kenapa Semua OrangPerlu Berpikir Seperti Seorang Ilmuan, dan masih banyak lagi.

                Gue mulai tertarik sama Sejarah (yang selama ini gue kira cuma HAFALIN nama tokoh dan tanggal-tanggal penting(?)) gara-gara baca artikel tentang sejarah dari zeniusblog. Gue jadi kenal Mohammad Hatta yang dikira cuma sebagai pendamping Soekarno. Gue jadi agak terbuka dan ngerti berbagai pandangan tentang Dinamika Gerakan 30September 1965 . Gue jadi tau gimana serunya Perang Dunia. Gue jadi kenal sama sosok Tan Malaka, sosok yang jarang keliatan di buku sejarah, tapi ternyata gede banget perannya, bahkan dia yang awalnya munculin frasa Republik Indonesia. Saking tertariknya sama tokoh yang terakhir plus sinopsis dari artikel zeniusblog yang lain, akhirnya gue beli buku Tan Malaka yang paling terkenal, Madilog.
Madilog dan beberapa buku-buku laen yang gue beli sejak kenal zeniusblog



                Nah, coba buka kategori Zenius-Debunk di zeniusblog ini. Zenius Debunk bakal menantang otak lo buat bertanya : “Emang gitu ya? Lah..? Kok? Jadi, selama ini gue salah!” dan sebagainya. Ya, zenius-debunk isinya ‘debunk’ tentang hoax-hoax yang biasa berkeliaran di jarkoman Whatsapp, Line, Facebook atau media sosial yang lain. Berikut 3 artikel paling gue suka dari zenius-Debung. Pertama, “10 Mitos Sains yang Masih Banyak Dipercaya Orang”, Kedua, “Aktivasi Otak Tengah, Benerang Gak Tuh?” dan terakhir “Kupas Tuntas Produk Minuman yang Katanya Berkhasiat.”

                Singkat kata, zeniusblog bakal menantang banget buat jadi bacaan ringan sekaligus olahraga yang sehat buat otak.

***

                Selain blog, ternyata zenius juga punya sebuah website tempat belajar berbasis video di zenius.net. Melihat halaman depannya (ada tulisan : Dari soal SD sampe UM STOVIA pun ada J) , gue langsung mikir, “Apa website zenius yang ini hanya sekadar seperti bimbel-bimbel yang lain? Gak kayak zeniusblog tadi.  Kurang pantas nyandang label bimbel (bimbingan belajar), harusnya sih bimujan (bimbingan ujian). “ Gue bukalah seluruh isi websitenya. Emang mayoritas terdiri atas materi-materi dari SD sampai SBMPTN. Tapi, ternyata setelah membuka section zeniuslearning , pandangan gue berubah Zenius.net gak ujian-oriented  banget lah.  

                Video yang pertama kali gue buka adalah LearningHow to Learn. Di situ, Sabda (yang ngomong), ngasih tau, “Belajar tuh harus GUNA!!”. Misalnya, SNMPTN, SNMPTN punya dua tujuan : 1. Tujuan Praktis, lulus; 2. Tujuan ideal, ilmunya. Naaah, tujuan kedua inilah yang keren banget di terangin di sini. Gimana pelajaran tuh GUNA buat hidup lo. Dan ini sangat menjawab pertanyaan gue tentang, “kenapa gue musti belajar fisika, matematika, sejarah, ekonomi, atau sebagainya”. Manfaat terbesar belajar pelajaran di SMA bukan konten pelajarannya(konten tetep penting penting sih), tapi yang lebih penting adalah GIMANA GUNAIN CARA PIKIR PELAJARAN TERSEBUT KE KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Setelah beberapa saat merenung, oooh..iya, “Orang yang ngerti cara pikir (YANG BENER) fisika & matematika, bakal lebih rasional, dia bakal meng-argumentasikan segala tindakannya dan apapun yang dilihatnya, kenapa harus begini, kenapa harus begitu. Dan orang yang belajar sejarah (secara bener-bener) bakal lebih kecil kemungkinannya buat ngulangin kesalahan yang sama di sejarah. “

                Saat gue mau buka video ke dua ada tulisan, “Oops..kamu hanya bisa menonton video pertama” lengkap dengan emoticon smilenya. Jadi, zenius punya tiga tingkat member: Free-member, Regular-member dan Premium-member. Perbedaan ketiganya adalah jumlah video yang dapat di akses. Pertama, Free-member yang kayak gue pertama kali(sangat terbatas aksesnya), kemudian Regular yang udah registration(agak banyak video yang dapat di akses) dan terakhir Premium yang udah beli vouchernya (full-access).

                Jiwa pelajar gretongerz(gratisan) plus prinsip ekonomi membuat gue registrasi akun regular dan buka semua video yang bisa di buka. Di mayoritas video, para tutor yang ngomongnya jarang banget yang pakai bahasa formal, mayoritas pake  kata “Lo dan gue” . Jadi, dijamin (berani banget wkw) belajarnya (belajar SBMPTN dan kehidupan) lancar jaya. Belajarnya pun gak sekadar gugurin kewajiban kurikulum doank. Contohnya, di Biologi, coba lo buka Bab Substansi Genetik. Di video pertama dijelasin, analogi buku dan gen yang ngemudahin banget (dan ngubah pandangan gue tentang Biologi sebagai hafalan) biar kita dapat tuh cara imajinasiin tubuh, sel, gen, dna, kromosom dll.

                Awal kelas 11, gue dibeliin voucher zenius yang 12 bulan biar dapat bisa buka semua video. Waktu itu, gue belinya di Depok Town Square dekat parkiran. Setelah sampai di rumah, tentu, bagian pertama yang gue buka adalah section zeniuslearning (yang sebelumnya cuma kebuka beberapa video aja). Zeniuslearning dibagi jadi beberapa bab  yang bakal gue bahas sebagian besar.

                Pertama, Battleground &Challenge, yang jelasin perbedaan Tes Evaluasi (UN) vs Tes Seleksi (SBMPTN & UM). Apa sih konsep si pembuat soal itu? Apa tujuan keduanya? Dan sebagainya.


                Selanjutnya, Self-Concept. “Apa sih self-concept? Konsep diri. Cara lo nih mandang segala sesuatu. Elo adalah hasil dari pikiran-pikiran lo. ”, kata Sabda yang gue inget di video itu( diucapkan dengan suara menggelegarnya).  Di sini juga, Sabda ngasih tau beberapa lifehack buat ningkatin kinerja otak, diantaranya olahraga, minum omega 3 dan gunain wikipedia serta Encarta.  Di video-video selanjutnya, ngomongin habit paling kena di gue sampe sekarang : Proaktif.  Proaktif tuh, lo adalah kayak Sabda bilang di awal-awal video (Elo adalah produk pikiran-pikiran lo). Misalnya contoh kasus gini : ada kakak sama adeknya, nah kakaknya gara-gara di suatu lomba pada umur 5 tahun menang dan dia akhirnya di bilangin kalo dia tuh dibilangi ‘pinter,pinter,pinter’ terus sama lingkungannya, sedangkan adeknya yang lahir kemudian di umur yang sama gak mencapai itu dan terus di bilangin sebaliknya ‘dodol-dodol-dodol lu’. Akhirnya apa? Kakaknya makin pinter gara-gara dibilangin begitu dan adeknya malah makin ‘dodol’ gara-gara nganggap dia ‘dodol’. Nah, inilah maksudnya proaktif. Ini yang bikin gue tau kenapa gue pinter Matematika(#gasombong). Dan ini juga yang makin ngebuka batasan pikiran gue akan pelajaran-pelajaran yang selama ini gue anggap hafalan semata.


                Goal & Motivation. Banyak orang punya banyak tujuan, tapi hanya sedikit tujuannya yang tercapai. Kenapa? Karena mereka gak punya motivasi atau motivasi mereka gak sustainable. Pernahkan lo lagi semangat-semangatnya belajar namun di lain waktu males-malesan. Di Goal & Motivation, dijelasin kalo tujuan tuh harus tertulis, di review dan diimajinasikan. Tujuan lo tuh harus punya “why” nya. Dan “why” atau reasonnya itu harus kuat secara emosional.   

Tujuan tertulis buat bisa B. Inggris.
Walaupun, setengah dari ini gagal sih gara-gara terlalu strict dan maksa. 


Tujuan buat bisa B. Jepang.
Sama kayak B. Inggris, gagal gara-gara standarnya ketinggian
(gue ketawa sekarang ngeliat setahun yang lalu nulis lulus N2+N1 seenak udel wkawk). 


                Important Thinking Tools. Di sinilah lo bakal diajarin Scientific Thinking. Gimana cara berpikir kritis. Bahwa seorang scientist (semua orang harusnya scientist) harus bisa berpikir, “ini info dari mana sih” dan memverifikasikannya untuk menjadikkan sebuah knowledge. Segala sesuatu itu punya sebab, sesuai bunyi “The Law of Casuality”. Di video belakang-belakang, ada video efektif vs efesien dan berpikir kontekstual.


                Terus,  Masalah Belajar dan Solusinya, yds lah, keliatan dari namanya. Masalah yang paling populer dalam belajar adalah MALAS.  Kenapa malas? Karena banyak distraction. Misalnya kalo lo belajar di ruang keluarga, bayangin aja tuh bunyi sinetron dari TV, orang-orang yang lewat di depan lo dan lain-lain. Terus, jangan pakai lampu yang terlalu terang dan jangan pake musik(kalo pun pake bagusan yang instrumental) . Intinya sih , “Jadikan belajar dan tools belajar lo adalah hal yang paling utama saat belajar”

                Lanjut lagi, Learning How to Learn. Gimana cara belajar? Paling utama belajar harus GUNA(yang ini udah gue bahas diatas). Selanjutnya, Learning How to Learn ngajarin gue cara-cara praktikalnya. Pertama, Mindmap. Gue sih sebelum ini udah pernah buat Mindmap, tapi gue melupakan satu hal penting, “Mindmap itu harus lu nya itu semengerti mungkin dan terus di update”. Selama ini gue seringnya, ya…sekadar gambar doank lah. Kedua, belajar dengan simbol dan imajinasi. Misalnya, F=ma atau lebih enak a=F/m. Bayangin sebuah benda, kalo gayanya lebih gede, ya percepatannya lebih kenceng. Tapi, kalo bendanya lebih berat, lebih susahlah buat di dorong. Itu yang dimaksud simbol dan imajinasi.



                Lanjut terakhir, Time Management. Di sini dikasih tau tentang skala prioritas, bedain 4 macam kebutuhan(penting-mendesak,penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, tidak penting-tidak mendesak), gimana cara alokasiin waktu ke daftar-daftar penting-ga penting tadi,  terus masukin ke rencana-rencana besar dan bagi ke rencana-rencana kecil.

Hasil Time Management dan https://www.zenius.net/blog/13061/jadwal-belajar-sbmptn
Klik kanan, Open New Tab untuk Memperbesar Gambar

Klik kanan, Open New Tab untuk Memperbesar Gambar


                Overral, zeniuslearning adalah bagian pembuka yang hampir sangat baik di zenius. Beberapa bagian gue kurang setuju, misalnya tentang omega 3 ataupun belajar sambil mati lampu tapi secara keseluruhan zeniuslearning menjalankan kewajiban yang ditanggung namanya dengan sangat memuaskan.

***

                Sekarang, pindah ke sesi materinya. Di tab atas tersedia tulisan : SD, SMP, SMA dan SBMPTN. Nah, ada SD dan SMP juga tuh. Karena gue punya dua adek,jadi  satu akun Premium tuh bisa juga di pake sama adek gue yang masih SD dan SMP. Syaratnya sih (kalo kata gue), jangan pakai (ngelogin) sekaligus 1 akun itu di tempat beda (belom pernah nyoba juga, takut di banned wkwk ). Karena gue seringnya nonton SMA, jadi yang gue cuma bisa ngomong pelajaran-pelajaran SMA.

                Matematika
                Pelajaran pertama, tentu pelajaran favorit, Matematika. Satu hal paling keren di section ini adalah Postulat. Postulat di Matematikanya Sabda ada 3 :  

                Meskipun keliatannya agak you don’t say´ sekarang, coba terapin postulat-postulat tersebut waktu ngerjain matematika. Misal ada begini : x+8=12, berapakah x? Dari SD lo kan pasti dibilanginnya begini, “8 nya dipindahin ke kanan jadi -8, terus x=12-8=4”. Naah, sadar gak , yang sebenernya lo lakukan adalah Postulat 2. Lo kasih kedua ruas f(z) yang f(z)=z-8 atau secara bahasa, mengurangi kedua ruas dengan angka 8. Itu… Selain itu, di bagian postulat inilah gue nemuin istilah (yang katanya) paling populer di zenius : kotak d kotak,segitiga d segitiga,  integral kodok d kodok, d bintang pangkat 4 dan joke-joke aneh lain yang terdapat pada postulat 1. Postulat  1 inilah yang bantu naikin level matematika gue ke arah yang lebih tinggi. Postulat 1 lah, yang ngebuat gue gak langsung buru-buru nyoret waktu ngerjain soal SBMPTN (yang keliatannya) ribet, padahal formasinya itu-itu juga.


                Fisika, aktor utamanya, Wisnu. Dulu inget banget, waktu kelas 10, ngafalin semua kasus atau rangkaian balok di Bab Dinamika Partikel dan Hukum Newton. Giliran, salah satu balok di halangin, atau di tempelin, gue lupa nih, rumus yang mana yang harus digunain. Udah keselip-selip pokoknya. Namun, sekarang, sejak pakai kliknik tongfang, zenius, gue jadi ngerti kenapa percepatannya kayak gitu. Sabar banget Wisnu jelasinnya secara pelan-pelan, kenapa gayanya dari sebelah situ, kok ada gaya itu, kenapa gayanya bisa dianggap gak ada dan sebagainya. Sekarang, kalo ngerjain soal-soal dinamika, gue dah bisa ngerjain dari gambar gayanya dulu. Selamat tinggal masa lalu yang kelam. Oiya..Wisnu juga punya channel pribadi di Youtube, coba liat-liat aja gimana dia ngajarnya.

                Biologi, dengan tutor yang pertama kali gue tau, Pras. Pras-lah yang bikin pandangan Biologi=Hafalan agak hilang. Pras-lah yang bikin gue belajar bahasa latin dan yunani (belajar prefix, sufixnya) doank buat ngereduksi suatu istilah (yang tadinya ribet) di Biologi. Kalo lo bandingin durasi semua video tutornya, Pras-lah yang punya durasi terpanjang. Selain, karena emang materinya yang agak panjang, kita dapet nih, integrasi apa yang kita pelajarin sama apa yang terjadi di dunia. Kalo mau liat Pras ngajar, cari aja di youtube channel dia : Prasdianto, dia punya list video tentang genetika dan evolusi yang ada di zenius yang bisa lu tonton secara gratis.


                Kimia, oleh Kak Yoki. Dulu, gue nganggep Kimia adalah pelajaran hitung campur-campuran sekumpulan alfabet yang gak guna yang lebih susah dari Mtk. Gue mulai buka-buka kimia(saking ga sukanya, nilai rapot hampir selalu pas KKM) pertama kali waktu satu bulan sebelum UKK(ujian kenaikan kelas).  Nah, karena gue yang ceritanya berikrar “Tobat Kimia Dulu buat SMA”, satu bulan itu mulai maksain belajar Kimia. Gue belajarnya dari ulang, dari kelas 10. Kak Yoki ini, waktu ngajarnya, setiap ada tindakan, ngasih alasan kenapa begitu. Misalnya yang gue inget, kenapa atom pada table periodik makin ke bawah makin gede adalah karena makin ke bawah, makin banyak electron, makin banyak yang ditampung, makin banyak juga lah ruang yang di butuhkan. Terus, gue belajar stoikiometri dan konsep mol secara bener-bener sampe paham di bawah sadar. Nah, selang 2 minggu kemudian, bab-bab penting kelas 10 selesai gue pelajarin. Dan itu sangaaat membantu banget buat gue pelajarin beberapa materi kelas 11 dengan sedikit cepat. Soal-soalnya pun sangat menantang. Gak sekadar masukin rumus doank. Soal-soal yang biasanya ada rumus singkatnya kayak di asam basa, dikasih tau kalo sebenernya rumus-rumus asam basa, diturunin dari konsep stoikiometri waktu kelas 10. Toplah…mudah-mudahan tobat kimia ini masih tahan sampe SBM nanti.

                Selama kelas 11, satu evaluasi : Gue gak serius make voucher zeniusnya karena masih ada distraction, pertama di sebelah tab zenius.net ada tab facebook sama kaskus, kedua kondisi internet yang gak lancar-lancar amat buat video. Akhirnya, kelas 12 gue beli xpedia 2.0 buat nuntasin itu.


***

                Xpedia 2.0 itu semacam paket belajar online+ofline. Jadi, kalo lo yang internetnya lelet, tinggal di pedalaman atau sebagainya, bisa tuh belajarnya via DVD. Satu paket xpedia ada  7 atau 8 DVD yang dibagi perkategori. Akhirnya, masalah internet gue tuntas. Tapi, kurangnya, video-video di VCD xpedia gak selengkap di zenius.net. Kalo gue, solusinya, “Cari dulu, ada gak di xpedia, kalo gak ada baru buka websitenya”. Gitu. Beralih ke onlinenya, ada tambahan selain voucher tadi. Para user xpedia dapet akses ke zenius.net/club. Di situ, lo boleh nanya apa aja, mulai dari pelajaran sekolah SMP sampee SBMPTN, nanya-nanya tentang jurusan kuliah ataupun masalah-masalah umum kayak pemanasan global, hoax, bahaya laten komunsi atau bener gak sih Flat Earth.

                Ada yang seru nih dari zenclub. Beberapa hari yang lalu, kita sempetin Gathering Zenclub 1.0. Jadi, kita-kita yang selama ini mungkin beda daerah, beda provinsi atau bahkan benda pulau, pada tanggal 18 Desember 2016 ngumpul di Warung Upnormal, Tebet. Di gathering  itu, acaranya kenalan secara langsung dan  sharing-sharing tentang PTN. Terus, juga datang para oshii user-zeni, Sabda, Wisnu, Wilo, Ijul , Glenn, Ari, Yoki dan Qoqom. Woohh…seneng banget lah, gimana rasanya ngeliat orang yang selama ini cuma keliatan suara atau tulisannya doank muncul di depan lo secara langsung. Di situ juga terbukti, orang-orang ini emang scientist sejati. Beberapa hasil dokumentasi teman : 
Salah satu momen hidup

Glenn ngasih pencerahan. Ari lagi megang Hape
Z

Lagi ngasih pencerahan

Kata Sabda, "Yang mau jadi 'ade kelas' gue ngumpul sini"

Wilo



***


                Akhir kata, dari artikel-artikel mind-blown blognya, zeniuslearning, pelajaran2nya yang diintegrasiin ke dunia, interaksi di club maupun grup linenya, Zenius adalah salah satu yang menerapkan secara benar-benar istilah Bimbingan Belajar. Sebuah teman yang membimbing lo untuk benar-benar belajar. 

Source :
zenius.net/
zenius.net/blog
zenius.net/club
https://www.youtube.com/channel/UCrQWcpC_w79wlOUkV6emQxQ
https://www.youtube.com/user/wisnuops

Read more ...

Seandainya Gua Menteri Pendidikan

February 16, 2016
Sebagai seorang siswa Indonesia, gua pastinya punya pandangan terhadap apa yang gua dapatin di sekolah. Di tulisan ini, gua bakal nuangin segalanya, gimana sih sekolah impian yang gua inginkan itu. Termasuk,  apa yang bakal gua lakukan seandainya gua adalah Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Warning..!!! Tulisan ini penuh dengan kebullshitan.  
                Pertama, ketimpangan fasilitas antara sekolah di Ibukota dan pelosok, kota dan daerah, Jawa dan luar Jawa, dan sebagainya.Masih banyak para teman kita yang belajar dengan beratapkan alas yang mau roboh, atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagaimana mengatasinya? Perlu adanya peningkatan porsi APBN untuk pendidikan, perbaikan pada birokrasi di tiap daerah dan sebagainya.
                Lalu, yang bakal gua bahas paling panjang.  the most important, kurikulum. Spesifically, sistem reward. Kurikulum telah menghilangkan “fun of learning”. Penting untuk menyadari bahwa setiap anak itu unik. Masing-masing mempunyai kemampuan dan kecerdasan di bidang yang berbeda-beda. Nah, kurikulum kita telah melakukan kesalahan besar (*Warning! Ini subjektif). Kurikulum telah menggeneralisasi setiap insan muda Indonesia. Gua bakal menghapus UN.
                Lah, bukannya emang udah dipisahin ya…antar IPA dan IPS di SMA. Ya emang udah dipisahin, tapi bukan itu yang gua maksud. Pemisahan ilmu gak segampang itu. Emang ada, seorang matematikiawan yang juga Dokter? Di saat UN, para pelajar adalah superman yang bisa menjadi Sastrawan, Matematikiawan, Ahli Biologi, Insinyur, serta kimiawan sekaligus. Tapi, apa esensi mereka belajar hal tersebut, mayoritas(mayoritas!!!)  dari mereka hanya menaruh informasi yang mereka tahan selama proses belajar mereka ke sebuah kertas ujian, lalu melupakannya setelah selesai. Nah, maka dari itu, seandainya gua Menteri Pendidikan, gua bakal menghapus sistem nilai itu.
                Mundur kebelakang dulu ya. Buat tingkat SD, harus ada foundation yang kuat(banget) yang bakal dipakai disegala lini kehidupan. Mapel(Mata Pelajarannya gimana?). Untuk kelas 1 dan 2, pastinya Agama dan PKn.  Kelas 3, ditambah Matematika dasar dan Bahasa Indonesia(bukan Sastra Indonesia).  Kelas 4 sampai 6, ditambah IPS dan IPA dasar yang sebenarnya. Maksud gua gini, apa gunanya anak umur 9 tahun buat tau, siapa yang menandatangani uang jajan mereka, atau badan usaha adalah organisasi ekonomi yang menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi. Yang mau liat lebih lanjut kelucuan bisa dilihat disini.
                Lanjut, SMP kelas 1, ditambah Bahasa Inggris yang notabene bahasa Internasional, scientific skill(bedakan dengan  learning science) dan dasar-dasar filsafat. Filsafat? Yak, tepat. Gua pingin, para pembelajar tersebut gak asal terima percaya aja segala sesuatu yang datang ke dia. Mereka harus tau, asal usul kenapa begini, kenapa begitu.
                SMP kelas 2 sampai 4, pembagian kelas dimulai. Tapi instead of pembagian kayak sekarang(kelas mendatangi siswa), gua pengen sebaliknya, tiap sekolah itu ada kelas fisika, ada kelas ekonomi, ada kelas sastra dan sebagainya. Jadi, para siswa bebas milih untuk masuk ke kelas mana aja. Tapi, pastinya harus ada kelas yang wajib diambil, antara lain : Bahasa inggris, menulis, filsafat,public speaking,  matematika, agama dan PKn. Tapi tenang, porsi untuk kelas wajib ini mungkin hanya 25% dari keseluruhan. Evaluasinya gimana? Kayak sistem mata kuliah aja, jadi buat lanjut ke SMA, para siswa harus mencapai batas minimal mata kuliah yang diambilnya. Seandainya ia mau menjadi sastrawan, ia harus lebih banyak mengambil kelas sastra ketimbang sosiologi dan sebaliknya. Di tingkat yang panjang ini juga, harus dijelasin-sejelasnya esensi dari disiplin ilmu itu sendiri, contohnya : Matematika bukan ilmu hitung-hitungan, melainkan gimana cara berpikir yang bener, fisika bukan matematika, ekonomi adalah cara memilih yang benar instead ilmu uang, moral bukan agama dan sebagainya.
                SMA kelas 1,sistem kelas masih sama, hanya para siswa yang kira-kira telah 1,5 dekade di bumi , ditekankan apa itu integrasi ilmu. Mereka harus tau, dimana posisi antar disiplin ilmu di dunia, gimana sih ilmu itu terkait satu sama lain.  Gimana, kok bisa munculnya obat kanker dari bahan nuklir, bisa nyebabin Dr. Warsito di “buang” dari Indonesia, gimana kok bisa sangat sedikit seniman di Indonesia ketimbang Negara maju, gimana gejolak politik bisa berpengaruh sama nilai rupiah dan sebagainya.
                SMA kelas 2 adalah masa terakhir dari pendidikan menengah. Para murid, dipersiapkan buat memasuki jenjang perkuliahan dengan lebih memperdalam ilmu yang menjadi pilihannya. Di tingkat terakhir ini juga, diajari cara survive sebagai warga Negara, contoh : cara membuat KTP,SIM dan sebagainya secara jujur, pasal-pasal dasar yang harus diketahui, dan sebagainya.
                Untuk tes masuk kuliah, yang harus di tes antara lain, TPA, Bahasa Inggris, dan pelajaran yang berkaitan jurusan kuliah tersebut saja. Selanjutnya, sunnahnya ada seleksi essay dan wawancara.
                Yah…udah panjangn juga tulisannya kwk, sekian dari gua, terima kasih yang udah luangin waktu baca sampai paragraf terakhir, pesan gua buat seluruh teman pelajar: Tetaplah merasa bodoh, maka lu bakal belajar, dan akhirnya lu mengembalikan hakikat dasar manusia sebagai pembelajar.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
               
               


Read more ...

Kelucuan LKS IPS kelas 3 SD

February 16, 2016


                Sesuai judul,gua bakal sharing aja LKS adek gua, yang masih kelas 3 di sekolah negeri. Ini bukti, bahwa (mayoritas) pendidikan Indonesia mengedepankan hafalan tanpa pemahaman. Siapa yang salah, pencetak buku tersebut atau pemerintah?
               
Cover Depan Buku

Lihat No.3
Kok salah? Kalo gak dijual di luar negeri kan, ya gimana mau laku. Iya..gua tau maksud gurunya bukan itu, tapi tetep aja ini ngebunuh kreativitas 




No. 27, ternyata bentuk tulisan yang ahh..sudahlah.
No. 28, soal hafalan

No. 24, emang bakal make wesel pos ya kwkw
No. 25, lebih penting bisa ngatur uang atau tau, kalo uang itu ditanda tangani Dewan Gub. BI

Wow...such problem. Adek gua udah diajarin Bursa Efek Indonesia kwkwk


Sekian, mungkin nanti bakal ditambah



Read more ...

Apasih yang Semestinya Diajarkan di Sekolah?

December 31, 2015
“Kamu kalau besar nanti mau jadi apa?”
“Apa saja Bu, yang penting berguna demi nusa dan bangsa!”
Seseorang akan dianggap penting jika ia dikenang oleh orang lainnya. Tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tapi apa yang ia lakukan demi semua orang – itulah yang membuat seseorang menjadi “penting”.
Ilmu, pengalaman, dan semangat kuat adalah kunci-kunci untuk berhasil. Kita semua tahu dengan jelas hal-hal itu. Sekarang, mari kita bandingkan dengan fungsi sekolah: membantu para siswanya mencapai keberhasilan (katanya). Dari dua fakta itu, mari kita simpulkan:

Sekolah Semestinya Mengajarkan Ilmu, Pengalaman, dan Semangat.

Ok, ok, saya tahu bahwa sekolah memang mengajarkan hal-hal ini. Tapi itu kan secara teoritis. Tidaklah adil jika saya langsung menuduh sekolah mengajarkan ketiga hal tersebut. Tapi mari saya teliti satu per satu.

Ilmu –ilmu sering tidak dianggap; yang dianggap adalah nilai. Saya rasa itu sesuatu yang tidak adil. Memang, segala sesuatu harus bisa diukur dengan suatu cara, untuk dibandingan. Tapi ilmu itu relatif. Saya bisa saja jago matematika tapi kemampuan Biologi saya amburadul. Dan jika hal itu terjadi, maka saya bisa jadi tidak lulus SMA. Ironiskah hal itu, bahwa kami terpaksa menjalani kemampuan secara bercabang, demi sekedar lulus, yang mungkin akan dilupakan saja setelah tuntas ulangan?
Ambil saja, Ujian Nasional kelas tiga SMA. Saya seorang murid IPA – aha, sudah ada kemajuan sedikit di sini. IPA dan IPS telah dipisah. Tapi tetap saja, dalam IPA, saya akan diuji 6 pelajaran: matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, biologi, kimia, dan fisika. Saya akan pisahkan Bahasa Inggris, karena saya anggap bahwa pelajaran itu cukup diperlukan, sehubung dengan globalisasi. Tapi lihatlah yang lain. Dengan diujinya semua pelajaran itu, saya dituntut untuk menjadi seorang matematisi, sastrawan, dokter, peneliti kimia, dan insinyur secara bersama-sama. Gila!!!!

Pengalaman – kelihatannya sederhana. Memang, pengalaman itu akan datang dengan sendirinya, bahkan tanpa diundang. Dengan sekedar hidup, kita memperoleh pengalaman, saya, lagi-lagi, akan mempertanyakan sekolah dalam hal ini. Dengan otak berisi pelajaran dari pukul 4 pagi hingga 5 sore (di sekolah saya), dan mata yang seharian pun tidak dapat melihat matahari (lebay…. ).
Ini menyisakan sedikit sekali waktu untuk mencari pengalaman lain, bagi hal yang saya anggap penting. Misalkan saja. Saya seorang programmer. Teman saya ada yang komikus, penari balet, penulis novel, fotografer… Berapa waktu lagi yang tersisa untuk pengalaman yang kita tahu sebenarnya akan berarti bagi kehidupan kita? Inilah mengapa yang disebut “hobi” hanya tinggallah hobi – dan juga mengapa sastrawan atau pelukis sering dianggap rendah (kecuali ia bisa menghasilkan uang banyak).
Karena itu, harusnya sekolah dapat menutupi kekurangan pengalaman itu. Dan itu ditutupi dengan apa? Berjam-jam duduk di depan meja, mencatat, mengerjakan soal, dan menggapai nilai yang setinggi-tingginya? Sekolah dapat melatih seorang murid untuk menghitung integral dari suatu penjabaran matematika panjang lebar, tapi ia tetap tidak akan tahu cara mengatur keuangan pribadinya dengan baik. Mau dari mana pengalaman kita?

Semangat – saya setiap hari bahagia sekali datang ke sekolah. Tapi saya tidak pernah berjalan masuk sekolah dengan pikiran “asik, hari ini saya akan diajari cara menghitung muatan partikel yang bergerak dari satu ujung kabel ke ujung lain dan dipengaruhi sebuah magnet”. Tentu tidak. Yang saya pikir adalah “asik, bisa bertemu teman-teman. Saya mau cerita tentang kejadian tadi malam“.


Penutup
Saya senang dengan lingkungan sekolah. Senang dengan sahabat saya. Senang akan kebersamaan itu, dan senang berbincang dengan guru. Tapi bukan untuk belajar. Saya tidak punya semangat untuk itu. Ada dua kemungkinan masalah: apakah saya yang tidak termotivasi, atau ini masalah dengan sistem sekolah? Saya bisa tanya setiap teman saya, apakah yang ia harapkan dengan ilmu yang dipelajari setiap hari. Hampir semuanya akan menjawab “agar saya dapat lulus, kemudian masuk Universitas /  fakultas yang saya inginkan“. Anda lihat satu pola di sini?


Read more ...